Potret Petani Organik Dusun Trece
Pagi
mulai beranjak terik ketika kami menelusuri pematang sawah di Dusun Trece-Desa
Pacet-Kecamatan Pacet-Kabupaten Mojokerto-Jawa Timur. Sebuah dusun di kaki gunung Welirang(3.156 m
dpl)-gunung api yang telah lama tidak aktif. Justeru karena dibawah kaki gunung
berapi inilah yang kemudian membuat tanah pertanian di kawasan ini terlihat
begitu subur. Hamparan sawah hijau menguning
terlihat dimana-mana, dengan diselingi oleh hamparan bawang daun, tomat, dan
seledri.
Terlihat Cak Put, tengah asyik mengauli lahannya dengan cangkul yang
agak miring-ciri khas cangkul petani disekitar sini. Senyum khas-nya menghias
ketika kami sapa. Sambil duduk di sisi pematang yang disampingnya mengalir
sungai kecil yang bening, cerita tentang kesehariannya mulai bergulir.
Lahan
0,3 Ha ini dikelola dengan merotasi tanaman mulai dari padi IR 64, bawang
putih, bawang daun, seledri, cabe dan tomat.
Lahan ini masih milik keluarga, namun Cak Put mendapat mandat untuk
mengelola lahan ini sehingga lebih mudah untuk diarahkan ke organic. Katanya ini masih tanah keluarga yang
dikelolanya bersama ibunda tercinta yang terlihat sedang asyik mengamati
tanaman seledri tak begitu jauh dari tempat kami bercengkrama.
Rotasi tanaman dilakukan berdasarkan pengalaman kesehariannya tentang
iklim dan serangan hama dan penyakit yang sering menganggu hasil dari
tanaman-tanaman tersebut. Pengetahuannya
tentang ini pernah dituliskannya di sebuah buku dan beberapa artikel yang
dikirimkannya ke berbagai majalah pertanian.
Cak Put adalah salah seorang anggota kelompok tani “ Kelompok Tani Muda”
(KTM). Sebuah kelompok yang telah lama
berdiri dan beraktivitas, namun sayangnya yang bertani organic saat ini
hanyalah dirinya seorang. Banyak anggota
lainnya yang tidak tertarik lagi bertani organic. Pasalnya menurut Cak Put
mereka lebih tertarik untuk mengumuli usaha jasa ekowisata yang memberikan
penghasilan lebih baik dibanding bertani secara organic.
Agak sulit mengali lebih jauh, kenapa Cak Put masih bertahan dengan
dunia pertanian organic ini. Mungkinkah
karena dia masih memiliki kawan-kawan yang seringkali berkumpul dan berdiskusi
tentang cita-cita dan nilai-nilai pertanian organic. Katanya, malu kalau tidak
bertani organic!
Atau mungkin karena ada factor lainnya dimana bagi cak put sendiri,
pendapatan dari bertani organic ini cukup memadai. Misalnya, harga bawang putih yang
dihasilkannya dibeli oleh pedagang yang langsung di lahannya seharga Rp 22.000
per kg sementara rata-rata harga bawang putih saat itu hanya Rp 15.000 per
kg. Atau pada kasus lain, beras organic
yang dihasilkannya dibeli dengan harga Rp 10.000 per kg sementara harga beras
bukan organic hanya Rp 3.500 per kg.
Tak
terasa, hampir sejam lebih kami menganggu aktivitas mencangkul dari Cak Put
ini. Dan sengatan mentari kian
terasa. Kami pamit sambil mencoba
mengatur rencana-rencana pertemuan ke depan.
Cukup banyak yang tercatat, ada sekitar 3 – 5 kegiatan di bulan-bulan ke
depan. Lalu, terlontar sebuah kalimat yang menyadarkan kami. Kalau pertemuan-pertemuan terus-terusan,
kapan saya bisa mencangkul ? Sebuah lontaran kalimat sederhana yang seharusnya
menjadi bagian yang harus dicatat dalam analisis perencanaan dari sebuah
gerakan pertanian organic.
Trece, 27 Juni 2011
Rasdi Wangsa
Comments