Skip to main content

Pertanian Organik Komunitas Adat Meratus


Potret Pertanian Organik Komunitas Adat Meratus

Hutan dan Komunitas Dayak Meratus
Dalam kepustakaan tentang masyarakat dan kebudayaan yang disusun oleh Raymond Kennedy, penduduk yang mendiami Kalimantan Selatan dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yakni Ngaju dan Melayu Pesisir (Coastal Malay).  Suku bangsa Ngaju pada umumnya mendiami daerah-daerah sepanjang aliran sungai Kahayan, Katingan dan Barito.  Oleh H.J Malinnkrodt orang-orang yang mendiami daerah-daerah tersebut dimasukkan ke dalam rumpun suku Ot Danum.  Terkandung dalam pengertian tersebut orang-orang yang mendiami daerah-daerah dataran rendah  maupun dataran tinggi semua daerah aliran sungai-sungai tersebut. Selain Ngaju atau Biaju, ke dalam rumpun ini termasuk pula suku Maanyan dan Lawangan yang mendiami kawasan bergunung-gunung dan berbukit-bukit bagian barat pegunungan Meratus yang terletak di kabupaten Barito Selatan Kalimantan Tengah sekarang ini, Radam (2001).  

Lebih lanjut dikemukakan bahwa penamaan kelompok orang yang mendiami kawasan pegunungan Meratus, terutama mereka yang tinggal antara daerah hulu aliran Sungai Pitap dan Riam Kiwa, khususnya yang mendiami kawasan hulu sungai Batang Alai  (Sungai Alai) sebagai Orang Bulit mula-mula dipakai oleh W.Grabowski (seorang misionaris) dalam tulisan singkat yang berjudul “Die Orang Bukit oder Bergmenschen von Mindai” (1885:782-786).  Dari tulisan itu, ia memberi perhatian orang bukit itu sebagai orang gunung (Bergnenschen) atau orang yang tinggal dipegunungan.  Kebetulan anak kampung Mindai terletak di kawasan yang bergunung-gunung tersebut yang sekarang ini berada dalam daerah administratif desa Pambakulan. 

Sebagai komunitas yang mendiami kawasan pegunungan Meratus yang lingkungan sekitarnya dikelilingi oleh kawasan hutan maka paradigma mereka atas tata kehidupan ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan hutan alam disekitarnya.  Oleh Hegar dalam Majid (2002:3-4)12, dikemukakan bahwa hutan bagi suku dayak meratus merupakan bagian dari nafas hidupnya.  Pemanfaatannya dikelolah secara bersama, diatur berdasarkan kebiasaan-kebiasaan mereka (adat).  Lebih lanjut oleh Hairansyah (2002:3-4) dikemukakan bahwa umumnya model pengelolaannya berbasis pada nilai ekonomis, ekologis dan keberlanjutan sebuah sistem pengelolaan.  Sumber daya alam adalah sumber pendapatan untuk memenuhi hidupnya sehari-hari sekaligus sebagai tabungan masa depan bagi anak cucu mereka.  Mata pencaharian mereka mengandalkan sumber daya alam  setempat (resources  base activity) yang memiliki rotasi ekonomi sepanjang tahun  sesuai musim yang berlaku, mulai usaha pertanian berupa padi tugalan, kebun rotan, kebun karet, dan hasil hutan non kayu seperti ; kulit kayu, getah jelutung, obat-obatan tradisional dan buah-buahan lokal musiman.

Potret di Balai Malaris dan Haratai, dua balai dari sekian banyak balai di kawasan pengunungan Meratus- Kalimantan Selatan yang digambarkan pada alinea-aline  dibawah ini adalah Sungguh-sunggu  sebuah model pertanian organik yang berbasis pada kearifan tradisi yang telah terbukti ratusan tahun hidup dan berkembangan bersama perjalanan tata kehidupan komunitas adat di kawasan pegunungan tersebut. 

Potensi Sumber Daya Non Kayu

A.  Balai Malaris

1.  Tanaman Obat dan pengetahuan tradisional
Potensi tanaman obat-obatan sangat erat kaitannya dengan pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh “Balian” (Dukun kampung) yang ada dibalai ini.  Dari wawancara mendalam yang dilakukan diperoleh informasi bahwa jumlah dukun kampung di balai ini ada sebanyak 5 Orang.  Dalam kaitannya dengan aspek ekonomi, potensi ini belum dikembangkan sebagai salah satu sumber peningkatan ekonomi para balian atau masyarakat Malaris secara umum.
Kemudian berkaitan dengan potensi tanaman obat yang sering digunakan sebanyak 28 jenis tanaman.  Bagian yang digunakan mulai dari akar, batang, kulit batang dan daun.  Keaneka ragaman hayati tanaman obat ini merupakan potensi yang besar bagi upaya pelestarian tanaman obat yang semakin langka.
          Berkaitan dengan komposisi atau ramuan dari obat tersebut, terlihat satu sistem proteksi pengetahuan lokal yang baik dari masyarakat dimana untuk mengetahui lebih jauh komposisi diperlukan suatu prosesi adat.  Dan kedua mereka sangat selektif terhadap pihak luar yang mencoba mengali informasi tentang hal tersebut. 


2.  Tanaman Buah Lokal
          Potensi tanaman atau tumbuhan buah lokal belum mendapat perhatian yang maksimal dalam meningkatkan pendapat ekonomi komunitas balai ini.  Untuk tanaman durian saja, dengan jumlah populasi 228 pohon dengan asumsi jumlah buah per pohon sebanyak 500 buah maka dalam satu musim panen buah durian yang bisa dipasarkan adalah sebanyak 114.000 buah.  Dan bila dikalikan dengan harga rata-rata per buah adalah Rp 3.000,- , maka omzet penjualan durian pada satu musim panen mencapai    Rp 342.000.000,-. 
Kemudian untuk buah Maharawin yang juga merupakan buah potensial jumlah populasinya mencapai 24 pohon. Dengan asumsi jumlah buah per pohon mencapai 200 buah maka dalam satu musim panen buah Maharawin yang bisa dipasarkan adalah sebanyak 4800 buah.  Dan bila dikalikan  dengan rata-rata harga per buah adalah Rp 3.000,- maka omzet penjualan Maharawin pada satu musim panen mencapai Rp 14.400.000,-.
Untuk Langsat Mincungan 24 pohon dengan asumsi rata-rata per pohon menghasilkan 150 kg maka produksinya adalah sebanyak 3600 kg.  Jika asumsi harga jual adalah Rp 2000,-/kg maka omzet langsat mincungan per musim panen adalah sebanyak Rp 7.200.000,- 
Untuk Langsat Ruku 288 pohon dengan asumsi rata-rata per pohon menghasilkan 150 kg maka produksinya adalah sebanyak 43.200 kg.  Jika asumsi harga jual adalah Rp 2000,-/kg maka omzet langsat mincungan per musim panen adalah sebanyak Rp 86.400.000,-
           Untuk Langsat Kacubuk 168 pohon dengan asumsi rata-rata per pohon menghasilkan 150 kg maka produksinya adalah sebanyak 25200 kg.  Jika asumsi harga jual adalah Rp 2000,-/kg maka omzet langsat mincungan per musim panen adalah sebanyak Rp 50.400.000,-
Untuk Manggis 144 pohon dengan asumsi rata-rata per pohon menghasilkan 100 kg maka produksinya adalah sebanyak 14.400 kg.  Jika asumsi harga jual adalah Rp 2000,-/kg maka omzet manggis per musim panen adalah sebanyak Rp 28.800.000,-
Untuk Kapul 264 pohon dengan asumsi rata-rata per pohon menghasilkan 100 kg maka produksinya adalah sebanyak 26.400 kg.  Jika asumsi harga jual adalah Rp 1000,-/kg maka omzet penjualan kapul per musim panen adalah sebanyak Rp 26.400.000,-
Untuk Tiwadak 216 pohon dengan asumsi rata-rata per pohon menghasilkan 50 kg maka produksinya adalah sebanyak 10800 kg.  Jika asumsi harga jual adalah Rp 500,-/kg maka omzet penjualan buah tiwadagk per musim panen adalah sebanyak Rp 5.400.000,-

3.  Tanaman Anggrek
          Berkaitan dengan potensi tanaman anggrek, secara umum habitat anggrek berada di luar wilayah adat balai ini.  Dari observasi lapangan dan wawancara mendalam diperoleh informasi bahwa habitat anggrek banyak dijumpai di hutan kayuan yang merupakan wilayah hutan lindung pegunungan Meratus.  Anggrek yang tumbuh di hutan kebun maupun hutan pahumaan relatif sedikit jenisnya.  Dari hasil observasi lapangan jumlah species yang ditemui hanya sebanyak 7 species.  Habitatnya adalah tumbuh dipohon-pohon sepanjang pinggiran sungai Niwani.
                  
4.  Tanaman bahan baku Kerajinan
          Tanaman bahan baku kerajinan yang dominan dan penting di balai ini adalah bambu, khususnya bambu tali. Hal ini disebabkan karena hampir semua kebutuhan peralatan yang dibutuhkan dalam budaya pertanian bahan bakunya dibuat dari bambu.  Mulai dari Butah untuk mengangkut gabah dari lahan pahumaan menuju lampau dan dari lampau ke pengilingan sampai bakul yang digunakan untuk membawa beras dalam jumlah kecil.
          Potensi tanaman kerajinan ini belum dikomersialkan atau diperdagangkan oleh masyarakat.  Hal ini disebabkan antara lain pertama oleh karena belum adanya upaya untuk mengembangkan potensinya sebagai sumber pendapatan dan kedua berkaitan dengan model yang dikembangkan memang hanya untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat dan uapacara adat sehingga dari segi motif maupun model belum menarik minat pembeli.

5. Pertanian Tradisional
Pertanian tradisional komunitas ini sangat berperan dalam menjaga kestabilan ekosistem hutan di kawasan ini.  Hal ini berkaitan dengan eksistensi pertanian tradisional sebagai sebuah kebudayaan bagi komunitas ini.  Dalam pandangan orang Malaris, bila seseorang tidak lagi berladang maka ia telah meninggalkan adatnya.  Sebagaimana dikemukakan oleh Heider (1972) berpendapat bahwa ekologi kebudayaan (cultural ecology) pada intinya memahami hubungan antara masyarakat, subsistensi, dan lingkungannya.  Ia menekankan bahwa perlu diperhatikan dalam ekologi kebudayaan adalah aktivitas subsistensi.  Dalam konteks ini, ia memperhatikan hubungan antara linkungan fisik, teknologi subsistensi dan organisasi sosialnya.  Sedangkan Pennoyer (1981) memperhatikan hubungan  antara faktor lingkungan, kebudayaan dan teknologi (Olofson, 1981). 
Hubungan diantara ketiga aspek tersebut terletak pada pola adaptasi ekologis.  Masyarakat beradaptasi dengan lingkungannya untuk memperoleh kebutuhan hidup (ekonomi) yang subsisten.  Di atas, saya sudah mengacu pada pandangan (Warner, 1981) yang mengatakan bahwa sistem pertanian manapun merupakan hasil keputusan yang diamil oleh petani ntuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, seperti kebutuhan subsistensi petani dan teknologi pertanian yang dipilihnya guna mempertahankan stabilitas atau ekuilibrium ekosistem atau agroekosistem (Olofson, 1981:26).  Halaman 198.
Pertanian tradisional juga berfungsinya sebagai sebuah sistem pelestarian plasma nutfah atau keaneka ragaman hayati padi lokal.  Dari proses diskusi kelompok terfokus, diperoleh data bahwa ada 31 jenis padi lokal yang sering dibudidayakan.


6. Perkebunan Rakyat
a.  Kemiri
Dengan potensi tanaman kemiri yang rata-rata setiap tandun  memiliki 20 pohon kemiri maka jika dikalikan dengan 24 tandun yang berdomisili di balai ini maka ada sekitar 480 pohon kemiri di balai Malaris.  Jika produksi satu pohon kemiri bisa mencapai 100 kg kemiri gelondongan per pohon maka omzet penjualan kemiri gelondongan balai ini dapat mencapai 480 kg x 100 kg x  Rp 2000 adalah Rp 96.000.000,-
         
b.  Kayu Manis
Kayu manis menjadi komoditas penting bagi komunitas balai Malaris.  Hampir setiap hari, terlihat hamparan kayu manis yang dikeringkan berada di halaman depan rumah penduduk.  Dengan potensi pohon kayu manis  rata-rata setiap tandun  memiliki 825 pohon  kayu manis, jika dikalikan dengan 24 tandun yang berdomisili di balai ini maka ada sekitar 19.800 pohon kayu manis.  Dengan asumsi satu pohon menghasilkan 8 kg kayu manis maka omzet penjualan kayu manis balai ini mencapai Rp 594.000.000,-

c.  Karet
Potensi karet balai ini sangat besar.  Rata-rata setiap tandun di balai ini memiliki 1.050 pohon  karet sehingga jika dikalikan dengan 24 tandun yang berdomisili di balai ini maka ada sekitar 25.200 pohon karet di balai Malaris.  Dengan asumsi setiap pohon karet dapat menghasilkan 48 kg / tahun/pohon, dengan harga per kilogram Rp 2.500,-  maka dalam seminggu omzet penjualan produksi karet  balai ini adalah sebesar Rp 3.024.000.000,-

d.   Sintuk
Potensi tanaman sintuk balai ini adalah  rata-rata setiap tandun  memiliki 28 pohon  sintuk sehingga jika dikalikan dengan 24 tandun yang berdomisili di balai ini maka ada sekitar 672 pohon sintuk di balai Malaris.  Dengan asumsi bahwa satu pohon sintuk menghasilkan 100 kg kulit pohon sintuk maka omzet penjualannya adalah sebesar Rp 134.400.000

7. Pariwisata
Potensi pariwisata balai Malaris sangat potensial untuk dikembangkan terutama untuk kegiatan ekowisata atau kegiatan wisata sangat mengandalkan kelestarian lingkungan dan eksistensi sosial budaya masyarakat setempat.  Potensi pariwisata berupa gua alam, ekosistem hutan hujan tropis dataran tinggi beserta flora dan fauna endemiknya menjadi daya tarik yang sangat besar bagi para wisatawan. Dan hal ini juga ditunjang oleh aktivitas sosial budaya dayak meratus yang masih tetap terjaga.

B.  Balai Haratai

1.  Tanaman Obat Tradisional
Keanekaragaman jenis tumbuhan atau tanaman obat ini habitanya tersebar mulai dari hutan alam sampai dengan di pekarangan rumah masyarakat.  Di hutan alam, tanaman obat ini tumbuh alami bersama pertumbuhan hutan alam tersebut.  Untuk di hutan pahumaan dan perkebunan rakyat merupakan tanaman sela yang juga tidak dikelola secara intensif tetapi hanya dibiarkan tumbuh alami.

2.  Tanaman Bumbu Masak
          Potensi tanaman atau tumbuhan untuk kebutuhan bumbu masak di balai ini cukup besar, mulai dari kayu manis sampai dengan tanaman sengkuak.  Tanaman “Sengkuak”  menjadi menarik untuk dikaji lebih lanjut oleh karena potensinya sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi persoalan bumbu masak modern yang ada selama ini dimana mengandung potensi untuk mengancam kesehatan masyarakat.  Pola hidup modern yang cenderung mengandalkan praktisitas tetapi mengancam kesehatan perlu dicarikan alternatif solusinya dan tanaman ini menjadi sesuatu yang memungkinkan untuk itu. 

3.  Tanaman Buah Lokal Potensial
Untuk Buah Lokal,  Untuk tanaman durian saja, dengan jumlah  156 pohon.  Jika jumlah buah per pohon sebanyak 500 buah maka dalam satu musim panen buah durian yang bisa dipasarkan adalah sebanyak 78.000 buah.  Dan bila dikalikan dengan harga rata-rata per buah adalah Rp 3.000,- , maka hasil penjualan durian pada satu musim panen mencapai    Rp 234.000.000,- 
Kemudian untuk buah Maharawin yang juga merupakan buah penting, jumlahnya mencapai 78 pohon. Jika jumlah buah per pohon mencapai 200 buah maka dalam satu musim panen buah Maharawin yang bisa dipasarkan adalah sebanyak 15.600 buah.  Dan bila dikalikan  dengan rata-rata harga per buah adalah Rp 3.000,- maka hasil penjualan Maharawin pada satu musim panen mencapai Rp 4.6800.000,-.  
Untuk Langsat Mincungan 338 pohon.  Jika rata-rata per pohon menghasilkan 150 kg maka produksinya adalah sebanyak 50.700 kg.  Jika harga jual adalah Rp 2.000,-/kg maka hasil langsat mincungan per musim panen adalah sebanyak Rp 101.400.000,- 
Untuk Langsat Ruku 2.262 pohon. Jika rata-rata per pohon menghasilkan 150 kg maka produksinya adalah sebanyak 339.300 kg.  Jika harga jual adalah Rp 2.000,-/kg maka hasil penjualan langsat Ruku per musim panen adalah sebanyak Rp 678.600.000,-
Untuk Langsat Kacubuk 26 pohon. Jika rata-rata per pohon menghasilkan 150 kg maka produksinya adalah sebanyak 3900 kg.  Jika harga jual adalah Rp 2.000,-/kg maka hasil penjualan langsat Kacubuk per musim panen adalah sebanyak Rp 7.800.000,-
Untuk Manggis 650 pohon. Jika rata-rata per pohon menghasilkan 200 kg maka produksinya adalah sebanyak 130.000 kg.  Jika  harga jual adalah Rp 2.000,-/kg maka hasil buah manggis per musim panen adalah sebanyak Rp 260.000.000,-
Untuk Kapul 572 pohon. Jika rata-rata per pohon menghasilkan 100 kg maka produksinya adalah sebanyak 57.200 kg buah kapul.  Jika harga jualnya adalah Rp 1.000,-/kg maka hasil penjualan Kapul per musim panen adalah Rp 57.200.000,-  
Untuk Tiwadagk 3.458 pohon. Jika rata-rata per pohon menghasilkan 50 kg maka produksinya adalah sebanyak 172.900 kg.  Jika harga jual adalah Rp 500,-/kg maka hasil penjualan buah Tiwadagk per musim panen adalah sebanyak Rp 86.450.000,-
Jika dijumlahkan keseluruhan potensi buah lokal tersebut diatas maka  akan ada peluang peningkatan pendapatan masyarakat Malaris dari hutan tanaman perkebunan rakyat sebesar Rp 1.472.250.000 per tahun.

.4.  Tanaman Anggrek
          Potensi anggrek balai Haratai ini masih relatif cukup banyak, habitatnya terutama terdapat hutan kayuan.  Hal ini ditunjukkan banyak masyarakat yang memelihara anggrek di pekarangan rumahnya dan juga pernah terjadi penjualan anggrek ke pengusaha di Bogor namun tidak berkelanjutan karena masyarakat dibohongi oleh pengusaha tersebut.  Peristiwa ini akan menjadi semacam hambatan untuk pengembangan dan pelestarian anggrek di balai ini.
           
5.  Tanaman untuk Kerajinan Tradisional
Potensi tanaman kerajinan tradisional cukup besar, terutama ketika melihat banyak potensi sumber daya bambu dan rotan di kawasan hutan balai ini.  Tantangannya adalah bagaimana membangun kesadaran potensi tersebut dan mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat  berkaitan dengan produk kerajinan seperti apa yang dibutuhkan oleh pasar. 

6. Pertanian Tradisional
Ekosistem pertanian tradisional menjadi komponen penting ketika kita melihat kenyataan bahwa hampir separuh wilayah adat kawasan ini menjadi kawasan pertanian tradisional masyarakat. Pola ladang rotasi ladang merupakan sebuah sistem pengelolaan sumber daya hutan yang meberikan kesempatan untuk terjadi proses suksesi selama paling tidak 7-15 tahun.
Pola pertanian dengan menanami satu hamparan ladang dengan  5 - 10 varietas padi lokal yang dicampur dengan berbagai tanaman sela lainnya seperti ;  Kaladi, jantan, pisang, kacang panjang, timun, tebu hintalu, tembakau, kacang tanah, jelai merupakan sistem pengelolaan tanaman yang sangat baik bagi upaya konservasi tanah, terutama untuk mencegah erosi dan membangun keseimbangan ekosistem di atas maupun di bawah tanah.
Padi/beras lokal tidak boleh dijual atau disebut pamali.  Hal ini merupakan norma lokal yang memperan dalam menjaga sistem ketahanan pangan komunitas, dimana dengan tidak dijual mereka mempunyai persediaan stok beras ketika musim panen gagal.
         
7.  Perkebunan Rakyat
a.  Kemiri
Potensi pohon kemiri produktif di balai ini mencapai  22 pohon per tandun dan yang belum produktif rata-rata sebanyak 14 pohon per tandun.  Dengan asumsi bahwa satu pohon kemiri dapat berproduksi sebanyak 100 kg per pohon maka produksi buah kemiri adalah sebanyak 2.200 kg.  Dan bila harga buah kemiri adalah Rp 1.950/kg maka omzet penjualan kemiri adalah sebesar Rp 4.290.000,-

b.  Kayu Manis
Tanaman Kayu Manis  dengan luas lahan ¾ Ha bisa menghasilkan 35 kg/hari kulit kayu manis.1 KK rata-rata memiliki 5000 pohon  kayu manis  dikalikan 125 KK = 625.000 pohon,  tanaman yang produktif .  Satu pohon bisa menghasilkan 15 kg kayu manis. Dengan harga Rp 2.500/kg.  Jadi potensi kayu manis di Haratai mencapai 15 kg x 625.000 pohon  adalah sebanyak  9.375.000 kg atau seharga Rp 9.375.000 x Rp 2.500 = Rp 23.437.500.000
Produksi kayu manis per KK mencapai 10 kg, dijual ke pasar Loksado dengan harga @ Rp 3.000 – 3.500/kg.  Terkadang harga kayu manis dipermainkan oleh pembeli dengan cara menurunkan harga secara tiba-tiba harga ketika melihat banyak petani membawa produknya.  Cara pengambilan, dengan cara menebang pohon, kemudian mengupas kulitnya.
Potensi kayu manis berdasarkan survey kuisioner partisipatif adalah rata-rata kepemilikan pohon kayu manis yang telah produktif di balai ini adalah sebanyak 887 pohon per tandun dan yang belum produktif rata-rata sebanyak 300 pohon per tandun.  Dengan asumsi produksi kulit kayu manis per pohon adalah 15 kg, dengan tingkat harga Rp 2500/kg maka omzet penjualannya akan mencapai Rp 33.262.500,-.

c.  Karet
Tanaman karet bisa dikatakan menjadi tanaman utama, selain padi  bagi masyarakat balai ini.  Semua anggota masyarakat memiliki tanaman karet.  Paling tidak setiap KK memiliki pohon karet produktif antara 100 – 500 pohon. Persoalan penting dari tanaman karet ini adalah Karet tidak dapat disadap pada musim penghujan karena getahnya tercampur/tercemar air hujan yang memasuki wadah penampung melalui rembesan pada batang karet. 
Pemasaran hasil karet masyarakat cukup mudah, yakni diangkut ke Pasar Loksado dengan mengunakan sepeda motor yang biaya angkutnya sebesar Rp 150/kg.  Pada pemantauan di Pasar Loksado, Truk karet dari Kandangan (Ibukota kabupaten) dan Banjarmasin (Ibukota Propinsi) selalu datang pada setiap hari Selasa, Jumat dan Minggu.  Pada hari Selasa ada 2-3 truk yang datang dan pada hari Jumat dan Minggu ada  1 truk.  Jadi jika dirata-ratakan ada 4 truk selama seminggu maka potensi karet kawasan Loksado sebanyak  4 truk x 7 ton = 28 ton.  Harga karet di pasar ini Rp 3.750/kg. 
          Potensi tanaman karet dari hasil survey kuisioner partisipatif adalah  rata-rata kepemilikan pohon karet yang telah produktif di balai ini adalah sebanyak 1875 pohon per tandun dan yang belum produktif rata-rata sebanyak 637 pohon per tandun.  Dengan asumsi satu pohon karet bisa menghasilkan 50 kg/minggu maka dengan tingkat harga Rp 3.750/kg akan diperoleh omzet penjualan karet sebesar Rp 351.562.500,-

2.2.8.  Pariwisata
Potensi Pariwisata di  Balai ini sangat besar, terutama untuk obyek wisata alam dan budaya.  Hal ini bisa ditunjukkan dengan banyaknya tingkat kunjungan wisatawan yang berkunjung ke kawasan ini, terutama wisatawan domestik dari ibukota kabupaten Hulu Sungai Selatan; Kandangan maupun dari ibukota propinsi Kalimantan Selatan; Banjarmasin.  Dari catatan buku  tamu di Cottage Bangun Banua di Loksado, diperoleh data bahwa kunjungan wisatawan domestik sebanyak 245 orang tahun 2001 dan sebanyak 374 orang pada tahun 2002.  Sedangkan untuk wisatawan mancanegara sebanyak 8 orang pada tahun 2001 dan 4 orang tahun 2002.   Paling tidak selama  1 minggu riset disini bertemu dengan 2 orang perempuan turis mancanegara.
Adapun  potensi wisata di balai ini adalah kawasan permandian alam di Air terjun Haratai yang berjarak sekitar 1,5 km dari pusat perkampungan.  Air terjun ini  sangat indah dan  terdiri 3 tingkat.  Menurut cerita masyarakat bahwa dahulunya di air  terjun ini banyak terdapat ikan Jelawat  yang besarnya bisa sepaha orang dewasa.   Namun karena semakin maraknya kegiatan pengambilan dengan mengunakan setrum dan potas maka populasinya semakin menurun.


Ancaman Dan Hambatan atas Pengembangan Potensi Sumber Daya Hutan bagi Peningkatan Pendapatan Ekonomi Masyarakat Lokal


A.       Ancaman di Balai Malaris dan Haratai

1.            Hutan Alam dan Hutan Pahumaan berada di dalam ketetapan Kawasan Hutan Lindung Meratus.

Ketetapan kawasan Lindung Meratus, dimana dalam ketetapan tersebut juga mencakup hutan alam yang merupakan wilayah tradisional masyarakat untuk berburu dan mengambil hasil hutan non kayu lainnya dan kawasan pahumaan untuk perladangan akan mengancam upaya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh kawasan hutan tersebut bagi peningkatan pendapatan masyarakat. 
Secara tradisional masyarakat Malaris memanfaatkan hutan katuan sebagai sumber kayu untuk bangunan dan sumber hasil hutan non kayu potensial lainnya seperti; tanaman obat, bambu dan berburu hewan.  Dengan realitas seperti ini maka bila pendekatan pengelolaan kawasan lindung tersebut tidak memahami eksistensi ini akan mengancam kawasan potensial masyarakat ini.  

2.            Masih kurangnya kesadaran untuk membangun gerakan bersama untuk peningkatan ekonomi masyarakat.

Sebagai sebuah komunitas yang memiliki sumber daya alam yang potensial, masyarakat Malaris tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh yang datangnya dari luar.  Berbagai kepentingan dari pihak luar terkadang membuat masyarakat terpecah.  Benturan budaya akan menjadi salah satu ancaman serius bagi upaya untuk membangun suatu tatanan sosial ekonomi yang kuat dari terjangan pengaruh globalisasi yang membawa misi-misi, termasuk nilai-nilai global di dalamnya.
Dengan adanya sarana-sarana komunikasi, seperti televisi dimana untuk komunitas Malaris yang telah ada fasilitas listrik PLNnya hampir rata-rata tandunnya memiliki televisi.


B.        Hambatan di Balai Malaris dan Haratai I
1.            Kurangnya penguasaan teknologi untuk mendukung aktivitas-aktivitas usaha baru,

Potensi yang dimiliki balai ini sangat besar namun potensi tidak akan banyak bermanfaat kalau tidak didukung penguasaan teknologi baru untuk upaya-upaya  pengembangan potensi tersebut. Sebagai sebuah komunitas masyarakat agraris (Peladang) dan relatif terbatas aksesnya untuk memperoleh teknologi-teknologi yang tengah berkembang saat ini mereka relatif jarang bersentuhan dengan teknologi-teknologi baru.  Dibutuhkan semacam pelatihan-pelatihan khusus dan intensif untuk upaya mengembangkan potensi-potensi yang ada.


2.            Kurangnya skill dan pengetahuan berkaitan dengan pengembangan peluang potensi sumber daya hutan,

Hambatan lain dalam kaitan dengan pengembangan potensi sumber daya hutan di balai ini adalah masih kurangnya pengetahuan dan ketrampilan dalam berbagai peluang pengembangan usaha baru yang memungkinkan untuk dikembangkan.  Hal ini berkaitan juga dengan (akses dan informasi pasar) dan tingkat pendidikan formal masyarakat yang secara umum untuk dikedua balai tersebut berpendidikan tamat SD, hanya beberapa yang SLTP.


3.            Perubahan budaya pertanian ke budaya industri.

Sebagai masyarakat agraris orang Malaris memiliki tantangan tersendiri untuk memasuki masyarakat industri atau jasa.  Perubahan kebudayaan ini patut mendapat perhatian serius dalam kaitan dengan upaya-upaya pengembangan potensi kawasan ini.


4.            Informasi pasar masih sangat kurang. 

Salah satu hambatan dalam pengembangan potensi sumber daya hutan di Malaris adalah lemahnya akses informasi pasar yang bisa diperoleh  masyarakat.  Sumber-sumber dan sarana informasi pasar masih sangat minim.


Rekomendasi
A.       Balai Malaris
1.            Perlu adanya pengembangan aktivitas pemanfaatan sumber daya hutan alam yang berkelanjutan, seperti ; penetapan dan pengelolaan “ Hutan Lindung Masyarakat

2.           Perlu adanya  Pengembangan Hasil Hutan Perkebunan Rakyat penting; Karet, Kayu Manis dan Kemiri, serta Buah Lokal  terutama dalam hal pemasaran, seperti Pembentukan dan Pengembangan Koperasi Pemasaran Hasil Kebun Masyarakat. 

3.           Perlu adanya Pengembangan dan Pemanfaatan potensi kestabilan ekosistem hutan dalam kaitan dengan Pemanfaatan Sumber Daya Air Bersih, seperti : “Usaha Air Minum Kemasan”, untuk mendukung gagasan ini perlu pula diintegrasikan dengan upaya mengembangkan “ Hutan Lindung Sepanjang Pinggir  Sungai Niwani”,
 
4.           Perlu adanya pengembangan dan pemanfaatan potensi wisata, terutama untuk pengembangan usaha ekowisata; Permandian Alam, Pondok Ekowisata, Pondok Pengamatan Kijang dan Owa-owa, Kebun  Anggrek dan bambu, Bentuk  Rumah Tradisional,  Kerajinan Tangan Tradisional, Wisata Budaya Pahumaan,

5.           Perlu adanya pemanfaatan sumber daya hutan pahumaan, seperti pemanfaatan bambu dan kayu hasil pembukaan hutan untuk pahumaan sebagai Bahan baku kertas bambu atau Kerajinan Tangan Bambu, atau untuk Bahan baku pembuatan arang.


B.        Balai Haratai I
1.            Perlu adanya pengembangan aktivitas pemanfaatan sumber daya hutan alam yang berkelanjutan, seperti ; penetapan dan pengelolaan “ Hutan Lindung Masyarakat

2.           Perlu adanya  Pengembangan Hasil Hutan Perkebunan Rakyat penting; Karet, Kayu Manis dan Kemiri, serta Buah Lokal  terutama dalam hal pemasaran, seperti Pembentukan dan Pengembangan Koperasi Pemasaran Hasil Kebun Masyarakat.

3.           Perlu adanya Pengembangan dan Pemanfaatan potensi kestabilan ekosistem hutan dalam kaitan dengan Pemanfaatan Sumber Daya Air Bersih, seperti : “PLTA Micro Hidro”, untuk mendukung gagasan ini perlu pula diintegrasikan dengan upaya mengembangkan “ Hutan Lindung Sepanjang Pinggir  Sungai Mangkiki”,

4.           Perlu adanya pengembangan dan pemanfaatan potensi wisata, terutama untuk pengembangan usaha ekowisata; Permandian Alam, Olahraga Arus Deras, Pondok Ekowisata, Pondok Pengamatan Kijang dan Owa-owa, Kebun  Anggrek dan bambu, Bentuk  Rumah Tradisional,  Kerajinan Tangan Tradisional, Wisata Budaya Pahumaan,

5.           Perlu adanya pemanfaatan sumber daya hutan pahumaan, seperti pemanfaatan bambu dan kayu hasil pembukaan hutan untuk pahumaan sebagai Bahan baku kertas bambu atau Kerajinan Tangan Bambu, atau untuk Bahan baku pembuatan arang.


























Comments

Popular posts from this blog

Mengenang seorang sahabat Melalui puisinya Entah dimana kini berada Pontianak, 28 Januari 2017 Jangan kejar kebahagiaan karena itu dambaan orang-orang cenggeng Jangan kejar kedamaian karena itu dambaan para pengecut Jangan kejar ketenangan karena itu pelarian para pembimbang Jangan pernah binggung menunjukkan kita tidak paham metodologi Jangan pernah terseret hanyut oleh arus peradaban karena diri kitalah pusat arus itu sendiri.... Sms from Lalu Pharmanegara 8 Juni 2007. 04:26:20 Ampun tuan, jangan paksa aku untuk teriak ”merdeka”! Ia tercekat di leher karena pembodohan merajalela, kemiskinan didagangkan dan martabat dibisniskan. Merah putih tanda luka dan pengharapan Lalu Pharmanegara, 17 Agustus 2007 / 06.53.46 Slamat pagi wahai ketulusan, Cerah yakinmu pada harapan, Bawalah bangsa ini menuju pencerahan,... Padamulah amanah itu diletakkan, Dikaulah pemimpin peradaban m...
Merindukanmu