Skip to main content

Tradisi Organik di Krayan


Dataran Tinggi Organik Krayan
Krayan the Organic High Land
Ekspor Produk Pertanian Organik  dan Import Turis Ekowisata
“Pengembangan pertanian organik sebagai komoditi unggulan yang bernilai ekspor”

A.    Latar Belakang

Dataran tinggi Krayan adalah sebuah masa depan penting bagi terutama komunitas masyarakat yang bermukim disini.   Paling tidak, hal ini yang harus ditanamkan oleh kita, terutama masyarakat Krayan.  Visi Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Utara  untuk adanya situasi “Berpadu dalam Kemajemukan untuk mewujudkan Kaltara 2020 yang Mandiri, Aman dan Damai, dengan didukung Pemerintah yang Bersih dan Berwibawa”  menjadi suatu kekuatan untuk semua elemen di propinsi ini untuk membangun kekuatan ekonomi propinsi ini, terutama dengan memulai jejak pergerakannya dari Dataran Tinggi Krayan. 

Posisi geografis Krayan yang merupakan perbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia menjadi posisi penting yang tentunya dalam konteks negara RI menjadikan pemerintah propinsi dan pusat seharusnya memberikan dukungan yang sepenuhnya atas inisiatif-inisiatif yang akan dijalankan di Krayan.   Oleh karena, sebagai wilayah perbatasan negara, Krayan menjadi etalase awal ketika warga dari negara lain akan memasuki wilayah Indonesia. 

Salah satu sektor penting di dataran tinggi Krayan adalah sektor pertanian.  Pertanian di Krayan adalah pertanian tradisional.  Pertanian tradisional adalah pertanian yang selalu menjadikan tradisi budaya yang telah turun temurun dijalankan oleh komunitas sejak ratusan lalu yang lalu. Pertanian tradisional di dataran tinggi Krayan tentunya selalu menjadikan tradisi budaya orang krayan sebagai dasar-dasar untuk mengembangkan pertanian di dataran tinggi ini.  Jika akar budaya orang Krayan Hilang maka pertanian tradisionalnya pun akan hilang.  Pertanian organikpun sangat menjadikan pertanian tradisi sebagai dasar dalam pengembangan pertanin organik ke masa depan.

Dataran tinggi Krayan, sangat potensial untuk dijadikan kawasan pertanian organik dalam skala dataran tinggi dengan pendekatan ekosistem yang sangat kaya akan sumber daya tumbuhan dan tanaman-tanaman lokal yang telah lama beradaptasi dengan iklim dan tanah dataran tinggi ini.  Begitu banyak varietas lokal, seperti tanaman pangan ; padi, sorgum, dele arur dan tanaman horikultura; buah-buah lokal dan sayuran hutan menjadikan produk-produk lokal organik dikawasan ini sangat potensial untuk dipasarkan secara nasional maupun eksport, selain yang utama untuk kebutuhan komunitas lokal dataran tinggi krayan.

Dalam konteks pariwisatapun, dataran tinggi krayan sangat potensial untuk didorong menjadi destinasi pariwisata unggulan di Indonesia, melalui pendekatan destinasi ekowisata.  Potensi alam beserta kultur pertanian tradisional menjadi potensi yang sangat kuat menarik kedatangan turis domestic maupun mancanegara.

B.    Potensi Produk Pertanian Organik 

1.      BERAS ADAN
Salah satu produk organik dari dataran tinggi Krayan adalah Padi Adan. Padi Adan putih, hitam, dan merah (pade adan buda mitem dan sia) merupakan bibit lokal hasil budidaya masyarakat di Kecamatan Krayan Selatan dan Krayan Induk. Beras tersebut adalah produk unggulan hasil pertanian tradisional masyarakat, dengan ciri khas aroma, cita rasa, dan tekstur yang halus.

Beras Adan sudah dikenal oleh banyak konsumen, baikitu tingkat nasional maupun internasional. Semakin hari permintaan konsumen akan beras Adan semakin hari meningkat.
Beras Adan merupakan varietas padi lokal dari dataran tinggi Borneo, khususnya Krayan, Nunukan, dan salah satu  beras dengan kualitas terbaik di antara varietas padi lokal lain yang hingga saat ini masih dibudidayakan di Krayan dan daerah Dataran Tinggi lainnya. Terdapat tiga varie tas yang berbeda: putih, merah dan hitam. Beras ini terkenal dengan biji-bijian kecil dan tekstur halus serta rasa yang enak. Tingginya karbohidrat (varietas putih) dan kandungan vitamin B6 (varietas merah) dan mineral (varietas hitam) membuat beras ini mampu memberikan kontribusi untuk nilai gizi yang sangat baik.

Beras Adan dibudidayakan sesuai dengan cara-cara tradisional dan organik oleh para petani Dataran Tinggi Krayan. Air yang bersih dialirkan dari pipa bambu atau parit alami ke sawah. Kerbau setelah panen dilepasliarkan ke sawah sehingga membuat sawah siap diolah untuk musim selanjutnya. Pembibitan biasanya dimulai sekitar bulan Juli dan penanaman dilakukan setelahnya. Musim panen dimulai sejak akhir Desember hingga Februari. Panen beras Adan hanya setahun sekali.

Pada tahun 2012, pemerintah Indonesia memberikan sertifikasi Indikasi Geografis (GI) bagi Beras Adan dari Dataran Tinggi Krayan sebagai pengakuan atas karakteristik yang unik di beras lokal ini. Hanya beras dari Krayan yang dapat dipromosikan dan dipasarkan dengan nama Beras Adan Krayan. Dan baru-baru ini, Beras Adan dari Krayan juga terdaftar di “Slow Food Ark of Taste”


Sejalan dengan kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat dan gaya hidup hijau, konsumen perlu juga mengetahui khasanah bahan pangan lokal karena kandungan nilai budaya, nilai ekonomi, nilai solidaritas, hingga nilai konservasinya.

Oleh karenanya berbagai pihak pengerak dan pendukung termasuk pemerintah terus mendorong adanya diversifikasi produk dari beras adan ini menjadi bentuk produk olahan.  Mulai dari tepung beras sampai dengan pudding dari Beras Adan. Kesemuanya ini akan meningkatkan pangsa pasar dari produk beras adan.

Dalam kaitan dengan upaya untuk memasuki pasar dan pemasaran produk beras adan organik ini maka standar dan sertifikasi pertanian organik harus dilalui  dalam rangka untuk  memperbaiki dan menjaga mutu dan kualitas beras Adan. Mulai dari proses persiapan lahan, seleksi bibit, penanaman, pasca panen, penggilingan sampai pada proses pengepakan untuk di pasarkan.

Formadat bersama-sama dengan WWF Indonesia telah menginisiasi dan mendorong standar dan skema sertifikasi organik beras Adan organik ini semenjak tahun 2004.  Kelompok-kelompok tani organik di desa-desa telah dilatih dan telah berupaya untuk mengembangkan sistem penjaminan mutu internal (ICS) yang kemudian dikuatkan dengan skema penjaminan komunitas (PAMOR) yang menjadi dasar atau alat untuk memasuki pasar Ekspor. 


2.      SORGUM
Berbicara mengenai pangan, khususnya bahan makanan pokok, kebanyakan dari kita akan menyebutkan beras. Dari sekian banyak sumber pangan lokal di Indonesia, sorgum menjadi salah satu bahan pangan yang tergeser oleh beras. Selain perawatan yang tidak rumit, sorgum juga dinilai memiliki kandungan gula yang lebih rendah dari padi. Sorgum juga memiliki daya tahan yang bagus terhadap iklim.

Sorgum, atau dalam bahasa Lundayeh disebut dele ra atau dele arur, telah lama dibudidayakan di Dataran Tinggi Krayan. Secara tradisional disemai di ladang perbukitan di sepanjang sungai kecil (karena itulah disebut arur yang berarti sungai dalam bahasa Lundayeh) atau digunakan juga sebagai penanda batas antara ladang.

Dalam tradisi masyarakat Lundayeh, sorgum bukan pengganti nasi sebagai makanan pokok, tapi disajikan dan dikonsumsi sebagai camilan, dimasak menggunakan bambu dan dicampur dengan nasi ketan. Secara tradisional, madu atau air sari tebu ditambahkan sebagai pemanis.

Sejalan dengan kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat dan gaya hidup hijau, konsumen perlu juga mengetahui khasanah bahan pangan lokal karena kandungan nilai budaya, nilai ekonomi, nilai solidaritas, hingga nilai konservasinya.

Indonesia memiliki ragam makanan lokal yang sangat kaya. Makanan-makanan tersebut diolah dari bahan pangan yang berasal dari alam Indonesia. Komoditas itu tak sedikit yang dibudidaya secara tradisional lewat cara-cara yang mempertimbangkan siklus yang berkelanjutan dan menggunakan pupuk non-kimiawi. Maka, dihasilkan produk yang tak hanya unggul secara kualitas, namun juga sehat dan ramah lingkungan karena organik.

Sejalan dengan kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat dan gaya hidup hijau, konsumen perlu juga mengetahui khasanah bahan pangan lokal karena kandungan nilai budaya, nilai ekonomi, nilai solidaritas, hingga nilai konservasinya.


3.      JAWAWUT
Jawawut (Setaria Italica) atau benamud dalam bahasa Lundayeh telah lama dibudidayakan di Dataran Tinggi Krayan. Secara tradisional disemai di ladang perbukitan bersama dengan tanaman padi. Jawawut memerlukan waktu lebih lama sampai siap untuk dipanen dan biasanya dipanen setelah padi.

Dalam tradisi masyarakat Lundayeh, benamud bukanlah pengganti nasi sebagai makanan pokok, namun sebagai makanan tambahan, camilan, atau pencuci mulut dicampur dengan nasi ketan/sorgum dan dimasak dalam bambu.


4.      Garam Gunung
Garam gunung berasal dari air yang memiliki salinitas tinggi yang mengalir dari dalam tanah. Air tersebut terdapat di dalam tanah selama jutaan tahun yang lalu ketika dataran tinggi di sana masih ditutupi oleh laut.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat setempat telah mampu mengidentifikasi mata air garam yang dapat dikonsumsi oleh manusia (main) dan mata air garam yang dikonsumsi oleh satwa liar (rupan), dan telah mengubah air yang memiliki salinitas tinggi menjadi garam dan dapat dijual ke daerah lain. Melalui catatan etno-historis kita dapat mengetahui bahwa garam merupakan salah satu komoditas yang paling berharga serta mampu diperdagangkan dari dataran tinggi Krayan ke daerah lain di pedalaman Borneo. 

Proses produksi garam terjadi sepanjang tahun, namun menjadi lebih intensif seiring dengan satu periode siklus penanaman padi. Masyarakat disana secara bergiliran mengolah garam, menghabiskan dua hingga tiga minggu di lokasi produksi pada suatu waktu jika lokasinya cukup jauh dari desa tempat mereka tinggal. Perempuan memiliki peranan penting dalam proses produksi tersebut. Dan garam menjadi sebuah komoditas utama untuk dikonsumsi sehari-hari dan untuk dijual. Metode pengolahan sepenuhnya menggunakan metode tradisional dan dikembangkan secara lokal, dengan satu-satunya penggunaan barel logam sebagai teknologi baru untuk memasaknya dalam jumlah yang lebih besar dan dapat membuat garam dalam waktu yang lebih singkat.

Garam Garam dikemas secara tradisional yaitu dengan cara memanaskan garam yang sudah dimasukkan ke dalam bambu di atas tungku api dan kemudian membungkusnya menggunakan daun. Biasanya garam disimpan dalam tumpukan kayu bakar di atas perapian di dapur. Dengan cara ini balok-balok garam akan tetap keras dan kering, serta dapat digunakan selama bertahun-tahun.



Proses produksi garam gunung adalah bagian penting dari warisan sejarah dan budaya masyarakat yang tinggal di dataran tinggi Borneo. Baru-baru ini, garam gunung Krayan terdaftar di Ark of Taste Slow Food. Ini merupakan sebuah pengakuan produk yang tidak hanya memiliki karakteristik unik dan cita rasa lokal, namun juga sebuah produk yang termasuk langka dan istimewa.

Dari standar gizi, garam gunung krayan  memenuhi seperti hasil penelitian yang menyampaikan bahwa konsentrasi  unsur  logam  penyusun  Garam Krayan adalah ion logan Natriun (Na) yaitu sebesar  19,35%  atau  193.498  ppm.  Garam yang  mengandung  ion  natrium  sangat  baik bagi  tubuh  karena  ion  natrium  berfungsi  untuk mengatur osmolaritas cairan, pH dan  volume darah, membantu transmisi rangsangan    saraf    dan    kontraksi    otot. Natrium termasuk golongan mineral makro (dibutuhkan   >100   mg   per   hari).   Angka kecukupan   gizi   (AKG)   yang   dianjurkan untuk  dewasa  berkisar  antara  500  -  2400 mg.  Dengan  demikian  untuk  ion  natrium garam    krayan,   telah    memenuhi   syarat untuk    memenuhi    nilai    AKG    dengan mengkonsumsi garam tersebut.      (Herman, dan Rolan Rusli, 2012 https://jtpc.farmasi.unmul.ac.id/index.php/jtpc/article/view/38/39 )










C.     Destinasi Ekowisata “ Dataran Tinggi Krayan”

Dari pemberitaan media di kotak bawah ini menunjukkan bahwa potensi pariwisata dataran tinggi krayan  sangat besar dan potensial, terutama untuk pengembangan ekowisata.
"KECAMATAN Krayan terletak di bagian barat Nunukan dan berbatasan dengan Serawak, Malaysia. Terdiri dari 65 desa dengan pusat pemerintahan di Long Bawan. Jumlah penduduknya sekitar 8.000 jiwa yang sebagian besar ialah penduduk asli pedalaman Kalimantan yaitu Suku Dayak Lundayeh. Untuk tiba di Krayan, harus melalui transportasi udara dengan penerbangan dari Bandara Nunukan ke lapangan terbang perintis Long Bawan. Penerbangan dilalui dalam waktu kurang lebih satu jam. Tapi, perjalanan itu tak seberapa dibanding apa yang didapat di sana. Di Krayan, tepatnya di Desa Lembudud, pengunjung akan disambut keramahan dan paras cantik gadis Suku Dayak Lundayeh. Mereka masyarakat yang sudah sadar wisata. Aktivitas kepariwisataan di sana dikelola Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo (Formadat). “Sebagian warga membuat kerajinan tangan dalam kesehariannya,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Nunukan Petrus Kanisius saat menemani peserta Journalist Tourism Tour Disbudpar Kaltim, Jumat (21/5) lalu.

Kerajinan itu berupa ukiran, sarung mandau, tameng, topi, dan sebagainya untuk dijual kepada wisatawan. Harganya pun lumayan menguras kantong, contohnya baju kulit kayu mereka jual Rp 300.000. Ada banyak hal unik di Krayan. Padi gunung dan buah-buahan hutan melimpah sepanjang tahun di sana, tanpa pupuk dan tak perlu obat anti hama.  Beras produksi Krayan pun berbeda dengan beras biasa. Beras Adan namanya. Butirnya lebih kecil dari biasa, dan warnanya lebih putih. Beras Adan merupakan produk unggul organik, yang banyak dipasarkan ke Malaysia dan Brunei. Beras ini jika sudah dimasak rasanya pulen. “Orang bilang kalau sudah makan nasi dari beras Adan, rasanya nggak mau berhenti,” kata Petrus. Selain itu, beras Adan tentu menyehatkan karena tidak ada unsur non-organik dalam proses tanamnya. Menurut Petrus, beras itu lebih banyak dipasarkan ke negara tetangga karena lebih mudah pengirimannya, serta masyarakat sana sudah terbiasa dengan makanan organik.

Tidak hanya beras, Krayan juga punya produk unik lainnya, yakni garam gunung hasil dari pengolahan sumur air bergaram. Di Desa Lembudud terdapat beberapa sumur berair asin. Dari sumur itu ibu-ibu mengubahnya menjadi garam. Namun, bukan itu daya tarik utama Krayan. Letaknya yang “monumental” lebih dari 1.000 meter di atas permukaan air laut serta alamnya yang masih alami menjadikan Krayan sangat menarik untuk dijelajahi. Terutama bagi penggemar wisata mendalami kehidupan tradisional dan menjelajah hutan (living culture and jungle tracking). “Itulah yang dicari wisatawan asing di Bario (daerah di Serawak, Malaysia, yang berbatasan langsung dengan Desa Lembudud, Krayan, Red.)” terang Petrus.

Ada 6.000 wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Bario setiap tahunnya dan ingin melanjutkan perjalanan wisata ke Krayan. Tapi dari jumlah itu, hanya 200-300 wisatawan yang nekat pergi ke Krayan untuk menikmati keindahan alamnya. Data tersebut disampaikan Seksi Ekowisata Formadat, Alex Balang. Kendala utama wisman mengunjungi Krayan adalah izin melewati perbatasan. Mereka tidak boleh melewati perbatasan Bario-Lembudud karena daerah itu bukan pintu masuk legal. “Saya sudah berkoordinasi dengan Kepala Kantor Imigrasi Nunukan untuk mengeluarkan kebijakan untuk memudahkan wisman yang ingin masuk ke Krayan melalui Bario. Tetapi dia tidak bisa memutuskan,” kata Petrus. Ia mengatakan, pihak imigrasi beralasan hal itu adalah kewenangan kantor imigrasi pusat. Untuk itu, Petrus sangat berharap Pemkab Nunukan maupun Pemprov Kaltim mau bersama-sama memikirkan solusi masalah ini. “Mungkin dengan menjembatani komunikasi ke pihak imigrasi,” ujarnya.

Dari keterangan Alex Balang, sebanyak 6.000 wisman itu benar-benar berhasrat mengunjungi alam Krayan. Mereka ingin menjelajahi hutan yang masih asli di Krayan, bermalam di alam terbuka. Belum lagi objek wisata arum jeram dan perbukitan yang bisa dijadikan arena terbang layang. “Satu wisman rata-rata menghabiskan Rp 8 juta untuk satu paket perjalanan ke Krayan,” kata Petrus. Maka jika urusan izin masuk dari Bario ke Krayan bisa dipermudah, bukan tidak mungkin 6.000 wisman yang mengunjungi Bario beralih ke Krayan. Maka sekitar Rp 48 miliar akan berputar di Krayan dan memberi efek positif bagi perekonomian di Nunukan pada umumnya. “Apalagi hutan di Bario mulai rusak. Beda dengan alam Krayan yang masih alami. Mereka sebenarnya lebih tertarik ke Krayan,” ujarnya."






















 












































Definisi dan Sejarah Ekowisata
Definisi Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Ekowisata dimulai ketika dirasakan adanya dampak negatif pada kegiatan pariwisata konvensional. Dampak negatif ini bukan hanya dikemukakan dan dibuktikan oleh para ahli lingkungan tetapi juga para budayawan, tokoh masyarakat dan pelaku bisnis pariwisata itu sendiri. Dampak berupa kerusakan lingkungan, terpengaruhnya budaya lokal secara tidak terkontrol, berkurangnya peran masyarakat setempat dan persaingan bisnis yang mulai mengancam lingkungan, budaya dan ekonomi masyarakat setempat.

Pada mulanya ekowisata dijalankan dengan cara membawa wisatawan ke objek wisata alam yang eksotis dengan cara ramah lingkungan. Proses kunjungan yang sebelumnya memanjakan wisatawan namun memberikan dampak negatif kepada lingkungan mulai dikurangi.

Sejarah Kegiatan ekowisata yang pertama barangkali adalah kegiatan safari (berburu hewan di alam bebas) yang dilakukan oleh para petualang dan pemburu di Afrika. Kegiatan ini marak pada awal 1900. Dan pemerintahan Kenya mengambil kesempatan dan membuka peluang bisnis dari kegiatan safari ini. Pemerintah Kenya yang baru merdeka, dengan sumber daya flora dan fauna yang dimilikinya menjual kegiatan petualangan safari kepada para pemburu yang ingin merasakan sensasi padang safana dan mamalia Afrika yang liar dan eksotis. Pemerintah Kenya menjual satu ekor singa sebagai buruan seharga US$27.000 pada tahun 1970. Namun akhirnya disadari bahwa perburuan yang tidak terkendali dapat mengakibatkan kepunahan spesies flora atau fauna dan mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada. Belajar dari pengalaman ini, pemerintah Kenya akhirnya melakukan banyak perubahan di dalam pelaksanaan kegiatan safari dan mulai menerapkan konsep-konsep ekowisata modern di dalam industri pariwisata.

Pada akhir dekade 1970 gagasan ekowisata mulai diperbincangkan dan dianggap sebagai suatu alternatif kegiatan wisata tradisional. Selama masa 1980-an beberapa badan dunia, peneliti, pencinta lingkungan, ahli-ahli dibidang pariwisata dan beberapa negara mulai mencoba merumuskan dan mulai menjalankan kegiatan ini dengan caranya masing-masing.

Rumusan ekowisata pernah dikemukakan oleh Hector Ceballos-Lascurain pada tahun 1987 sebagai berikut: "Ekowisata adalah perjalanan ketempat-tempat yang masih alami dan relatif belum terganggu atau tercemari dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmati pemandangan, flora dan fauna, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini", bagi kebanyakan orang, terutama para pencinta lingkungan, rumusan yang dikemukakan oleh Hector Ceballos-Lascurain tersebut belumlah cukup untuk menggambarkan dan menerangkan kegiatan ekowisata. Penjelasan di atas dianggap hanyalah penggambaran dari kegiatan wisata alam biasa. Rumusan ini kemudian disempurnakan oleh The International Ecotourism Society (TIES) pada awal tahun 1990, sebagai berikut: "Ekowisata adalah kegiatan wisata alam yang bertanggung jawab dengan menjaga keaslian dan kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat”. Penjelasan ini sebenarnya hampir sama dengan yang diberikan oleh Hector Ceballos-Lascurain yaitu sama-sama menggambarkan kegiatan wisata di alam bebas atau terbuka, hanya saja menurut TIES dalam kegiatan ekowisata terkandung unsur-unsur kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap keaslian dan kelestarian lingkungan serta kesejahteraan masyarakat setempat. Ekowisata merupakan upaya untuk memaksimalkan dan sekaligus melestarikan potensi sumber daya alam dan budaya masyarakat setempat untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan yang berkesinambungan.

Pada awal 1980-an, Costarica dipilih oleh badan dunia PBB sebagai proyek percontohan kegiatan ekowisata. Belajar dari pengalaman di Kenya, di Costarica pelaksanaan kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, yaitu: pemerintah, swasta, masyarakat dan badan lingkungan hidup international. Proyek ini kemudian dinilai berhasil dan menjadi contoh bagi pelaksanaan kegiatan ekowisata diseluruh dunia.

Perkembangan ekowisata di dunia secara umum terasa cukup cepat dan mendapat prioritas dan perhatian dari pemerintahan masing-masing negara yang melaksanakannya. Walaupun dimulai dari Afrika, ekowisata berkembang pesat dan berevolusi secara menakjubkan justru di Amerika Latin.

Di beberapa negara Amerika Latin (terutama yang dialiri oleh sungai Amazon), kegiatan mengunjungi objek wisata alam berkembang menjadi kegiatan penyelamatan lingkungan hidup (konserfasi). Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata banyak peserta ekowisata yang tertarik dan ingin berkontribusi di dalam penyelamatan alam (flora dan fauna) dari kerusakan yang semakin parah. Beberapa lembaga atau organisasi yang bergerak dibidang lingkungan hidup menangkap peluang ini dan mulai mengadakan kegiatan reboisasi beserta dengan masyarakat luas termasuk peserta ekowisata, hingga kepada penggalangan dana dan penanaman pohon yang dapat diikuti melalui media internet.

Keaneka ragaman hayati di aliran sungai Amazon juga membuka peluang bagi kegiatan penelitian (yang semula tertutup) menjadi sebuah penelitian yang sifatnya terbuka dan bisa diikuti oleh wisatawan dengan kriteria tertentu. Kegiatan penelitian berupa pendataan spesies dan dampak kerusakan lingkungan, saat ini telah menjadi salah satu paket kegiatan ekowisata.

Kehidupan suku terasing Indian dengan budayanya yang unik dan menghormati lingkungan di aliran sungai Amazon juga mengundang daya tarik wisatawan yang kemudian menjadi peluang yang di organisir oleh masyarakat, biro wisata dan pemerintah untuk menarik wisatawan agar mau menetap untuk belajar dan mengetahui lebih lanjut kehidupan dan budaya dari masyarakat Indian.

Belajar dari kesalahan-kesalahan terdahulu yang menyebabkan dampak rusaknya lingkungan, pemerintah Costa Rica memobilisasi masyarakatnya untuk berperan aktif dalam kegiatan ekowosata. Tidak ada hotel berbintang dan bandara international yang dibangun di dekat objek wisata alam. Yang ada adalah rumah-rumah masyarakat yang terbuka untuk ditinggali sementara oleh para wisatawan (sekarang disebut home stay atau rumah singgah). Masyarakatpun tidak menyediakan menu masakan international kepada para wisatawan, mereka menyuguhkan masakan tradisional dengan standar kebersihan yang tinggi. Pemerintah Costarica yakin bahwa peserta ekowisata bukan hanya tertarik kepada eksotisme alam dari negaranya, tetapi juga tertarik kepada eksotisme kebudayaan dan cara hidup masyarakatnya.

Di Afrika, evolusi kegiatan ekowisata menarik untuk dicermati. Kegiatan perburuan binatang (singa, kerbau, gajah, badak dan lain sebagainya) yang sebelumnya dianggap dapat mengganggu kelestarian suatu spesies ternyata kalau dilakukan secara selektif justru dapat meningkatkan populasi spesies tersebut atau spesies yang lainnya. Kesimpulan ini didapatkan dari kenyataan yang ada bahwa banyak kelompok keluarga singa yang didominasi oleh jantan yang sudah tua berhenti berkembang biak dan tidak lagi melahirkan anak-anak singa yang baru. Ternyata hal ini diakibatkan oleh kualitas sperma yang dimiliki oleh si jantan yang telah tua sudah tidak baik lagi (mandul) atau tidak lagi memiliki birahi yang tinggi. Membunuh singa jantan yang tua ternyata membuka peluang bagi singa jantan yang muda, sehat dan produktif untuk meminpin kelompok tersebut dan kembali meneruskan garis keturunannya. Semenjak itulah kegiatan perburuan singa dan beberapa spesies lainnya mulai diadakan kembali di Kenya, tentunya dengan spesfikasi dan pengawasan yang ketat dari petugas taman nasional. https://id.wikipedia.org/wiki/Ekowisata



Comments

Popular posts from this blog

Mengenang seorang sahabat Melalui puisinya Entah dimana kini berada Pontianak, 28 Januari 2017 Jangan kejar kebahagiaan karena itu dambaan orang-orang cenggeng Jangan kejar kedamaian karena itu dambaan para pengecut Jangan kejar ketenangan karena itu pelarian para pembimbang Jangan pernah binggung menunjukkan kita tidak paham metodologi Jangan pernah terseret hanyut oleh arus peradaban karena diri kitalah pusat arus itu sendiri.... Sms from Lalu Pharmanegara 8 Juni 2007. 04:26:20 Ampun tuan, jangan paksa aku untuk teriak ”merdeka”! Ia tercekat di leher karena pembodohan merajalela, kemiskinan didagangkan dan martabat dibisniskan. Merah putih tanda luka dan pengharapan Lalu Pharmanegara, 17 Agustus 2007 / 06.53.46 Slamat pagi wahai ketulusan, Cerah yakinmu pada harapan, Bawalah bangsa ini menuju pencerahan,... Padamulah amanah itu diletakkan, Dikaulah pemimpin peradaban m...

Pertanian Organik Komunitas Adat Meratus

Potret Pertanian Organik Komunitas Adat Meratus Hutan dan Komunitas Dayak Meratus Dalam kepustakaan tentang masyarakat dan kebudayaan yang disusun oleh Raymond Kennedy, penduduk yang mendiami Kalimantan Selatan dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yakni Ngaju dan Melayu Pesisir (Coastal Malay).   Suku bangsa Ngaju pada umumnya mendiami daerah-daerah sepanjang aliran sungai Kahayan, Katingan dan Barito.   Oleh H.J Malinnkrodt orang-orang yang mendiami daerah-daerah tersebut dimasukkan ke dalam rumpun suku Ot Danum.   Terkandung dalam pengertian tersebut orang-orang yang mendiami daerah-daerah dataran rendah   maupun dataran tinggi semua daerah aliran sungai-sungai tersebut. Selain Ngaju atau Biaju, ke dalam rumpun ini termasuk pula suku Maanyan dan Lawangan yang mendiami kawasan bergunung-gunung dan berbukit-bukit bagian barat pegunungan Meratus yang terletak di kabupaten Barito Selatan Kalimantan Tengah sekarang ini, Radam (2001).    Lebih...
Merindukanmu